Subscribe Us

Header Ads

Silvikultur Institut Pertanian Bogor (Aurel) oleh - ilmukehutanan.xyz

Halo sahabat selamat datang di website ilmukehutanan.xyz, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Silvikultur Institut Pertanian Bogor (Aurel) oleh - ilmukehutanan.xyz, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

Hello fellas! Perkenalkan saya Aurelia Aranti Vinton, mahasiswi Departemen Silvikultur, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor angkatan 2016. Jurusan ini mungkin terdengar tidak terlalu familiar bagi kebanyakan orang. Oleh karena itu di sini saya akan berbagi informasi mengenai pengalaman saya menempuh pendidikan di jurusan silvikultur selama hampir 4 tahun ini.

Apa itu Silvikultur?

Jurusan Silvikultur di Institut Pertanian Bogor bernaung sebagai salah satu bagian dari Fakultas Kehutanan. Adapun “jurusan” atau istilah yang biasa kami sebut sebagai “departemen” di Fakultas Kehutanan sendiri terdiri atas Departemen Manajemen Hutan (MNH), Departemen Teknologi Hasil Hutan (DHH), Departemen Konservasi Sumberdaya Alam dan Ekowisata (KSHE), serta Departemen Silvikultur (SVK). Ditelaah dari namanya, silvikultur terdiri atas “silvi” yang artinya pohon dan “kultur” yang merupakan cara untuk berbudidaya. Singkatnya, silvikultur adalah jurusan yang mempelajari mengenai budidaya pohon. Yang membedakan kami dengan departemen lainnya adalah kami mempelajari mengenai teknik inisiasi, penanaman, hingga perawatan tanaman berkayu secara lebih mendalam dan intensif. Boleh dikatakan, jurusan ini hadir sebagai salah satu jawaban dari kebutuhan dunia saat ini mengenai lingkungan sekitar kita yang semakin rusak. “Ada yang merusak, ada yang memperbaiki”.

Silvikulturis, sebutan bagi kami sebagai mahasiswa dan akademisi yang terlibat. Memiliki kewajiban untuk melakukan program-program rehabilitasi yang dapat mendukung terciptanya kembali kestabilan ekosistem lingkungan. Saat ini, dapat kita lihat bahwa banyak sekali areal-areal bekas pertambangan. Baik itu tambang batubara, emas, perak, dan lain sebagainya yang setelah kegiatan tambang selesai dilakukan, kemudian menciptakan kondisi lingkungan yang rusak. Seperti meninggalkan lubang besar yang menganga, tanah yang memiliki pH sangat masam, maupun kondisi lingkungan yang sudah tidak baik lagi untuk ditempati. Ini karena terlalu banyak mengandung unsur-unsur logam berbahaya seperti timbal, merkuri, dan sebagainya.

Perlu diketahui teman-teman, bahwa kondisi lingkungan yang sudah rusak seperti ini, tidak semua jenis tanaman mampu untuk kembali beradaptasi atau singkatnya “langsung tumbuh setelah ditanam”. Perlu jenis tanaman khusus untuk dapat mengembalikan kondisi tanah agar stabil seperti sedia kala. Sebagai silvikulturis, kami memiliki tuntutan tersendiri untuk dapat mengetahui jenis tanaman yang dapat beradaptasi dengan baik untuk program rehabilitasi atau penghijauan pada tanah marjinal (tanah yang sudah sangat rusak).

Mata Kuliah Khas di Silvikultur

Mata kuliah yang khas dan mungkin hanya dipelajari oleh kami di slivikultur adalah “Dasar-Dasar Reklamasi Lahan Pasca Tambang”. Dalam mata kuliah ini, kami diajarkan mengenai teknik-teknik rehabilitasi dan jenis-jenis apa saja yang mampu untuk beradaptasi pada lahan rusak. Menarik juga karena selama praktikum, kami beberapa kali bisa memperoleh bahan-bahan yang sebenarnya mahal namun karena kebutuhan praktikum bisa kami dapatkan secara cuma-cuma.

Mata kuliah lainnya yang khas buat saya adalah “Genetika Hutan” karena disini kami mempelajari mengenai struktur DNA/RNA, melakukan sequencing, ataupun yang saat ini sedang marak dilakukan di tengah pandemi yakni tes polymerase chain reaction (PCR). Hal tersebut juga kami pelajari, namun tentu dengan sampel utamanya adalah sel tanaman berkayu. Ditambah lagi, kami juga mempelajari sedikit mengenai statistika dalam mata kuliah “Metode Statistika” dikarenakan bentuk visual untuk hasil data akan ditampilkan dalam bahasa statistik. Sehingga, saya merasa cukup banyak memperoleh ilmu tidak sebatas hanya yang berasal dari jurusan silvikultur ini sendiri.

Apa saja konsentrasi atau kelompok keahlian yang terdapat di jurusan Silvikultur?

Laboratorium Departemen Silvikultur terbagi atas tiga laboratorium utama yakni Laboratorium Silvikultur sendiri, Laboratorium Ekologi Hutan, dan Laboratorium Perlindungan Hutan. Di dalam Laboratorium Silvikultur, kami lebih berfokus kepada teknik budidaya tanaman berkayu mulai dari cara konvensional berupa perlakuan terhadap benih, cangkok, stek, dan kegiatan monitoring tanaman, hingga ke teknik modern seperti kultur jaringan dan rekayasa genetik tanaman. Laboratorium Ekologi Hutan lebih berfokus mempelajari ekosistem dari tiap jenis hutan seperti hutan mangrove, gambut, krapa, dan sebagainya. Terakhir, Laboratorium Perlindungan Hutan terbagi atas Laboratorium Hama dan Penyakit serta Laboratorium Kebakaran Hutan. Sebagaimana isu kebakaran sejak beberapa tahun lalu mulai marak terjadi di berbagai belahan dunia. Penjurusan terhadap ketiga laboratorium ini dilakukan untuk penyelesaian tugas akhir mahasiswa yang dimulai pada semester 6.

Informasi Tambahan

Setelah melihat beberapa paragraf di atas, kesannya jurusan silvikultur ini sangat “anak lapang” ya? Bisa sih dibilang seperti itu, tapi ada kalanya juga kami tidak terlalu sering ke lapang. Beralih tentang organisasi kemahasiswaan, jurusan Silvikultur sendiri memiliki Himpunan Profesi bernama “Tree Grower Community (TGC)”. Sesuai namanya, setiap tahun kami pasti mengadakan aksi lingkungan. Berupa penanaman di areal-areal tertentu seperti misalnya wilayah pesisir pantai sebagai bagian dari ekosistem mangrove. Mahasiswa Departemen Silvikultur wajib menjadi anggota Tree Grower Community. Namun tidak wajib menjadi pengurus dari TGC ini sendiri. Selain himpunan profesi, di Fakultas Kehutanan kami juga memiliki beberapa organisasi kemahasiswaan lainnya. Seperti Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM), maupun Rimbawan Pecinta Alam (RIMPALA).

Salah satu privilege lain yang boleh dirasakan sebagai bagian dari mahasiswa kehutanan adalah kami memiliki organisasi mahasiswa kehutanan yang terhubung secara global dalam International Forestry Students Association (IFSA). IFSA di Indonesia terdapat di  Institut Pertanian Bogor, Universitas Gadjah Mada, Universitas Lambung Mangkurat, dan Institut Teknologi Bandung. IFSA memiliki kegiatan tahunan internasional yakni International Forestry Students Symposium (IFSS) dan Asia-Pacific Regional Meeting (APRM). What a blessing, saya juga sempat dipercaya untuk menjadi delegasi IFSA LC-IPB dalam kegiatan tahunan Asia-Pacific Regional Meeting tahun 2019 di Korea Selatan. Kegiatan ini melibatkan seluruh mahasiswa kehutanan dunia. Kami saling bertukar informasi mengenai informasi kehutanan yang dimiliki oleh tiap masing-masing negara.

Sebagai mahasiswa kehutanan khususnya di jurusan Silvikultur, saya merasa telah mendapatkan banyak pengalaman dan wawasan berharga. Saya rasa belum tentu bisa saya dapatkan kalau saya tidak memilih jurusan ini. Untuk tantangan dalam perkuliahan sendiri, saya merasa mungkin sama seperti yang dirasakan mahasiswa pada umumnya. Perihal time management. Sebagai mahasiswa, kita benar-benar dituntut untuk bisa membagi waktu dengan baik agar dapat dimanfaatkan secara optimal.

Prospek Kerja Lulusan Silvikultur?

For your information, meskipun mengambil jurusan silvikultur, ketika lulus kami tetap bergelar sarjana kehutanan (S.Hut). Saya melihat cukup banyak peluang yang bisa diambil oleh senior-senior yang sekarang telah lulus dan bekerja sebagai lulusan kehutanan. Pekerjaan bisa diperoleh dari instansi pemerintahan sebagai pegawai negeri sipil (PNS). Swasta di dalam struktur perusahaan, umumnya di bagian sustainability. Ataupun berwirausaha dengan melakukan bisnis di bagian lingkungan. Selain itu, karir yang cukup prospektif juga dapat diperoleh dari lembaga swadaya masyarakat (LSM) baik lokal ataupun internasional yang disebut sebagai non-governmental organization (NGO). Lembaga internasional lain semisal Center for International Forestry Research (CIFOR) dan Food and Agriculture Organization (FAO) juga dapat menjadi pilihan karir bagi lulusan sarjana kehutanan.

Rencana dan harapan setelah lulus?

Sejauh ini, saya dapat menyampaikan bahwa gambaran singkatnya setelah lulus adalah saya ingin berdampak dan bermanfaat bagi masyarakat. Baik di wilayah Indonesia maupun juga lintas negara, yang mungkin salah dua caranya adalah bekerja di lembaga multinasional dan melanjutkan study abroad. Selain itu, sembari mengisi waktu setelah lulus, saya juga sedang mengembangkan organisasi lingkungan. Bisa dicek secara lengkapnya di instagram @treehome.id. Harapan ke depannya sebagai founder dari organisasi ini, saya dan kami semua yang terlibat bisa memberikan informasi kepada khalayak mengenai lingkungan. Juga setelah pandemi ini usai dapat melakukan berbagai program lingkungan di beberapa daerah yang tersebar di Indonesia. Wish us luck guys!

Kode konten: X364

Itulah tadi informasi mengenai Silvikultur Institut Pertanian Bogor (Aurel) oleh - ilmukehutanan.xyz dan sekianlah artikel dari kami ilmukehutanan.xyz, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

Post a Comment

0 Comments